Kamu jatuh dan patah. Kamu hebat.
Matahari itu tersenyum cerah dan hangat. Menemani suasana pagi di kota Metropolitan. Suara - suara klakson yang nyaring namun sudah terdengar. Membuat sesak seketika.
Potret pagi itu aku abadikan. Karena birunya langit yang begitu manis. Sang awan pun turut melambai halus. Burung berkicau seakan menyapa. Angin pun membawa jatuhnya daun yang berguguran.
Baik sekali untuk mengawali hari.
Sebenarnya, aku terduduk dan termenung dihadapan gawai. Bingung, hanya menuliskan untaian aksara yang aku ingat hari itu. Lalu, ku mengingat kembali jejak memori di pikiran bodoh ini. Kapasitasnya terlalu kecil, sehingga lamban untuk menangkap momen penting.
Ah ya!
Akhir - akhir ini, aku sedang sibuk akan banyak hal. Sampai aku tidak memperhatikan. Berlarut - larut dengan duniaku. Padahal sangat membosankan, hingga aku ingin tidur saja. Lelah.
Hari itu, aku ingin menyapa. Namun, nampaknya kamu sedang dilanda. Gelisah, dilema, menyalahkan diri, segalanya seperti sedang berat dijalani.
Kamu punya twitter. Begitupun aku. Aku memperhatikan, kerap. Hingga merasakan kesedihanmu kala itu. Aku turut sedih. Bukan karena kamu sedih, bukan. Tapi ternyata kamu tengah mencemburui. Seseorang.
Wah, siapa dia. Secantik apa dia. Sebaik apa dia. Sekeren apa dia. Hingga membuatmu jatuh hati dan patah.
Hanya satu. Sudahilah. Lanjutkan kegiatan dan masa depan yang baik. Kamu baik dan hebat. Aku tau itu. Banyak yang sedang kamu kerjakan, bukan? Aku harap semuanya lancar, begitupun denganku.
Mungkin, akan tiba aku mengatakan ini. Tapi kini, aku masih payah. Baris demi baris aku tuliskan disini. Doa demi doa pun turut aku panjatkan. Kelak, aku pasti akan sampaikan. Mungkin. Maaf.
#PDP Chapter 8
Komentar
Posting Komentar