Sang Ego, Teruslah Bersama.

10 April 2021: 20.00 WIB

Di penghujung hari. Aku menyingkirkan sang ego yang biasanya menemaniku.

Sekitar tiga bulan yang lalu. Aku dikecewakan, merasa dikhianati, dan banyak bertanya “apa salahku? Kenapa dia melakukan semua ini? Kenapa padaku?”.

Kami tak saling memberi kabar. Saling menyapa pun tidak. Seperti orang asing untuk sementara waktu. Namun tak lama, dia menyapa terlebih dulu. Bertanya kabarku, katanya merindukanku. Dengan kalimat yang sangat canggung. Terasa. Hingga membuat dinding dingin seperti tak berpenghuni.

Aku membalas singkat. Tak bertanya balik. Rasa kecewa itu masih menancap di hati. Bertunas dan mengakar.

Hari – hari berlalu. Kami membaik. Tidak, maksudku aku yang bertopeng. Berpura – pura semuanya baik – baik saja. Aku bertemu dengannya. Dia tersenyum hangat menyambut, seperti tidak ada yang terjadi diantara kita. Aku membalas tersenyum tipis.

Aku mencoba berbicara seperti biasa. Menjadi diriku yang ceria. Aku yakin acting ku luar biasa. Aku merasakan sudah tidak ada suasana dingin itu. Semuanya kembali menghangat.

Semenjak pertemuan itu, membuatku semakin berjarak. Membuat dinding tebal berlapis – lapis. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Bertanya seperlunya. Menjawab seadanya. Berhari – hari masih sama. Aku bahkan lupa masih ada dirinya dalam hidupku.

Namun, satu pertemuan tiba – tiba datang mendadak. Satu hari sebelum pertemuan itu, aku tau dia akan datang. Aku datang dengan kawananku, tapi akhirnya dia tidak datang. Tidak tahu. Mungkin karena ada aku. Jadi siapa yang pengecut disini?

Pertemuan dengan kawanku membuatku tau banyak hal tentangnya. Karena temanku ini cukup dekat dengannya. Ia bercerita, aku pura – pura tidak tertarik. Tapi aku memperhatikan, menyimak, dan mencerna kata per kata yang diucapkannya. Ternyata, dia sedang dalam kesulitan. Pantas, tak ada kabar lama darinya. Tapi, aku marah besar dalam hati. Mengutuk semua prasangka yang datang menyeringai. Mendengar cerita penting itu datang dari orang lain. Bukan langsung darinya.

Apakah dia sudah benar – benar tidak menganggapku? Apakah aku sudah mati dalam kehidupannya? Bertumpuk – tumpuk keresahan itu datang dan pergi silih berganti. Maju mundur aku ingin bertanya padanya, langsung.

Akhirnya, ku kabari dirinya. Ku tanyai semuanya. Ku curahkan semua kekecewaanku selama ini padanya. Tapi dengan nada yang masih bisa aku kontrol.

“Ada apa? Kenapa semua ini bisa terjadi? Apa yang salah dengan kita? Maaf,” kataku memulai.

Aku kira semuanya akan kembali membaik, bahkan jauh lebih baik. Nyatanya, tidak. Semuanya malah membuatku semakin ingin berjarak dan menjauh pergi.

Untuk pertama kalinya aku tidak mau didengar, cukup mendengar saja.

Aku meminta maaf kepadanya, untuk masalah lampau yang sempat terjadi. Untuk jarak yang aku bagi. Untuk waktu yang tidak bisa lagi sama. Untuk semuanya, yang kini berbeda.

Aku meminta maaf kepadanya dengan sungguh – sungguh. Berharap dia berbalas menyesal lalu meminta maaf dengan tulus, kalau perlu sampai menangis. Jika itu terjadi, aku setulus hati akan memaafkannya. Melupakan semua yang pernah terjadi. Tetapi, itu hanya ilusi. Harapan itu tak terwujud dengan baik.

Dia?

Tak ada rasa sesal karena masalah itu. Hanya meminta maaf sebagai formalitas. Bahkan menjawab jengkel kepadaku. Balik marah dengan kesalahpahaman itu. Apakah disini aku yang memang benar – benar salah?

Aku baca ulang percakapan hari itu. Saat masalah terjadi. Aku meminta banyak tanggapan dari teman – temanku yang lain. Aku tidak sepenuhnya salah. Ini benar – benar hanya kesalahpahaman saja. Egoisnya dan egoisku saat itu benar – benar membeludak.

Aku merasa bodoh sekali.

Selama ini, ternyata aku yang hanya menganggap. Aku yang hanya bersyukur memilikinya. Aku saja yang selalu mendukungnya, mendengarnya, menemaninya.

Sebetulnya masih ada banyak hal ingin aku tanyakan padanya. Apakah momen aku berkeluh kesah itu salah waktu? Aku tau, mungkin iya, karena dia sedang dalam situasi getir. Tidak baik.

Tapi apakah dia tidak melihat bagaimana sudut pandangku?

Aku bilang, aku menangis tersengguk. Dia abai.

Aku bilang, aku sayang padanya. Dia abai.

Aku juga bilang, aku tidak mau kehilangannya. Dia? Tentu abai, tak membalas. Mengalihkan

Komentar

Postingan Populer