Jelmaan Mimpi. Jangan kembali!
Ruangannya putih, banyak cahaya terang dimana – mana. Tapi aku tidak tau dari mana asal cahaya itu. Ada banyak orang didalamnya, termasuk aku. Berjalan mendekati pintu untuk melihat sekeliling. Lalu, aku melihatnya.
Dia datang dengan senyum simpul. Lesungnya menemani juga. Wajah
kelam yang masih sama menghiasi seluruh lapisan.
Lalu, aku menyapa, meski awalnya enggan karena malas
berjumpa. Seketika dia menghampiri dan berkata,
“Aku akan pergi, jauh sekali,” ucapnya tersenyum getir.
“Kemana? Dengan siapa? Kapan kembali? Kenapa tiba – tiba
sekali?,” tanyaku bertubi – tubi.
Dirinya menjawab satu persatu pertanyaan khawatirku. Dia merasakannya.
Dia menjelaskan hal – hal yang tidak bisa aku pahami. Tangannya memegang
tanganku untuk menenangkan. Aku terdiam lalu menangis. Lama.
Dia mendekat dan memelukku dengan erat. Teramat erat. Membisikan
sesuatu dan berkata “Maaf,”. Aku semakin menangis. Dekapannya hangat terasa. Aku
sungguh tidak mau dia pergi.
Seketika aku terbangun. Ternyata tadi hanyalah mimpi.
Aku melamun, mengingat kembali potongan – potongan mimpi
itu. Setelah puzzle itu terpasang sempurna, aku terdiam sangat lama. Rasanya begitu
nyata. Sangat menyedihkan. Mimpi sialan!
Bermimpi akannya, baru terasa sudah lama tidak berjumpa.
Apa kabar? Semoga kamu baik – baik saja.
Komentar
Posting Komentar