Perasaanku, Sungguh Sederhana
Mengenalnya, lebih tepatnya aku
yang hanya mengenalnya dari jauh. Saat itu tahun 2013, aku mengetahui dirinya
ada di bumi ini. Aku yang baru berada di bangku SMA, baru lulusan smp, bocah
yang baru menganggap dirinya mulai dewasa.
Melihatnya dari kejauhan saja
sungguh menyenangkan. Parasnya memang tampan, banyak orang yang menyukainya. Tapi
sayang, saat itu sepertinya dia sudah punya kekasih. Aku melihatnya sering kali
bersama seorang wanita yang cukup cantik.
Tahun itu, media sosial bernama instagram belum ramai dipergunakan
orang-orang. Namun, aku sudah menjadi pengguna instagram, bahkan tidak banyak
orang yang menggunakan smartphone. Aku mulai mencari lelaki itu di media sosial.
“Wah dapat! Dia sudah menggunakan
media sosial juga ternyata,” kataku bergumam sendiri, senang.
Follow !
Aku mengikutinya dari tahun itu,
tapi tidak ada respon seperti notif “@p***** mengikutimu”. Sedih? tidak begitu,
karena memang kita tidak saling mengenal. Aku yang hanya menyukainya,
diam-diam. Tapi aku hanya suka, layaknya adik kelas melihat kakak kelas yang
oke menurutku.
Umur yang berjarak 2 tahun lebih
muda darinya. Kemudian, aku naik ke tingkat 2, dia lulus, secepat itu. Aku mulai
tidak memperhatikannya lagi. Di media sosial pun tidak banyak hal-hal yang dia upload. Seketika aku lupa dan tidak
memperhatikan lagi. Bahkan aku menyukai pria lain. Sesekali saja aku hanya
melihat postingannya dari tahun ke tahun, tidak terlalu menelusurinya lagi.
Waktu berlalu begitu cepat.
Tahun 2020, saat pandemi covid-19
sedang ramai menjadi bencana semua orang di dunia. Namun, ada hal yang
membuatku senang seketika.
“@p***** mulai mengikutimu!,”
notif media sosial yang masuk di layar handphoneku.
Berpikir sejenak, siapa?
“HAH? KAKAK ITU!!,” teriaku penuh
kegirangan senang.
Setelah sekian lama, 7 tahun
berlalu lamanya dia baru mengikutiku di media sosial. Aku tertawa
terbahak-bahak, malu sendiri, tapi aku sudah lama tidak melihatnya. Lalu,
diam-diam aku melihat semua postingannya.
Ternyata dia seorang mahasiswa,
di salah satu perguruan tinggi berbasis seni. Lebih tepatnya, dia mengambil
jurusan perfilman. Aku merasa dirinya begitu mengagumkan, terus, dan selalu. Aku
banyak berpikir yang tidak-tidak pastinya. Melihat sosok itu kembali, bahkan
bisa saja melihat duniaku, walau hanya di dunia maya. Begitu menyenangkan
mengharapkannya lagi. Aw malu.
Lalu,
Aku bercerita pada salah satu
teman perempuanku. Temanku ini begitu cantik dan rupawan. Banyak laki-laki yang
menyukainya. Lalu, temanku itu mulai mengikuti (mem-follow) laki-laki yang sedang aku
bicarakan, laki-laki yang aku suka itu. Tidak lama kemudian, pria itu mengikuti kembali (mem-follback) temanku.
Seketika, dia mematahkan semua
harapanku. Aku sangat tertawa, melihat tingkah sendiri yang terlalu berlebihan,
tapi aku sedikit kecewa meski tidak begitu.
Cerita ini begitu sederhana ingin
aku utarakan, karena sekarang aku sungguh-sungguh mengaguminya. Tapi, aku tidak
banyak berharap, hanya saja sedikit menyenangkan ketika menyukai seseorang
lagi.
Aku hanya ingin mengatakan,
“Selamat datang dan terimakasih. Mungkin,
setidaknya kamu bisa melihat duniaku. Ya, inilah aku, tidak banyak yang
istimewa. Tapi, semoga kamu bisa melihatnya, itu cukup bagiku,”
Bandung, 14 Juni 2020.
#PDP Chapter 1
Komentar
Posting Komentar