Baru
Aku mendapati diriku yang baru. Tidak pernah, bahkan aku pun bertanya-tanya. Menyikapi kebaikan dengan jengkel tidak suka. Menjauhi dan tidak ingin menyapa. Bahkan melepaskan menjadi lebih mudah dibanding sebelumnya.
Bagian terkecil kebaikan itu membuat frustasi. Kebaikan yang telah salah diberikan. Menunggu satu terhadap seratus waktu yang terbuang. Bukankah sesak?
Bukan karena bulan yang datang. Senyum itu bahkan hilang pada bulannya. Ataupun iya, jiwa manusia yang belum pernah kutemui. Baru dan gelap.
Lagi, mencobanya. Berpapasan hanya untuk singgah. Lalu pergi dan sendiri. Menyisakan kebencian yang cukup buruk. Bahkan, raga tidak mau dan keheranan. Ada apa?
Bentuk permainan hari. Kepribadian yang menyesakan. Sempit tak ada ruang lagi. Baiklah, sendiri berjalan tidak buruk. Tanpa udara, dan langit yang indah.
Komentar
Posting Komentar