Jurnalis Ditengah Pandemi, Kekhawatiran Psikologis dan Krisis


Sejumlah jurnalis di tengah pandemi covid-19 saat menghadiri jumpa pers
(Source: radarmadura.jawapos.com)

Virus covid-19 yang menyerang China sejak desember 2019 lalu, dan ditetapkan statusnya menjadi Pandemi oleh WHO. Pun, Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena akan virus covid-19 tersebut. Saat ini, banyak sekali orang-orang yang berjuang di tengah pandemi, seperti halnya tenaga medis yang menjadi sorotan utama.

Namun, disamping tenaga medis yang sangat berjasa, terdapat profesi-profesi lain yang turut andil mengenai penyampaian informasi dengan akurat kepada masyarakat, yakni profesi jurnalis atau wartawan. Peran media yang dengan cekatan menyampaikan informasi, terkhusus terkait pemberitaan virus corona saat ini. Jurnalis di tengah pandemi memberikan banyak resiko yang dihadapkan, seperti bertemu dengan banyak orang, melakukan kegiatan di lapangan yang mungkin saja terkena virus, dibanding orang-orang yang diam di rumah.

Saat ini, media-media dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) banyak memberikan kebijakan terkait tugas peliputan yang mengharuskan setiap jurnalis turun ke lapangan. Membuat kebijakan berupa protokol keamanan liputan. Tetapi, seperti halnya untuk jurnalis televisi, tidak terus menerus mengandalkan by phone, karena kelengkapan data tidak memungkinkan akurat ataupun tervalidasi jika hanya melakukan wawancara daring, namun perlu adanya peliputan atau peristiwa di lapangan yang ditampilkan.

Jurnalis di tengah pandemi memiliki resiko tersendiri. Kekhawatiran terkena virus corona pun dirasakan salah seorang wartawan TVRI, Saifal, ia mengatakan adanya dampak psikologis yang dirasakan.

“Kita dihantui rasa was-was, dan saling curiga,” ungkapnya saat dihubungi via daring.

Bukan hanya ketakutan terkena virus, tetapi adanya perubahan dari kebiasaan yang sering dilakukan saat liputan. Menurut Saifal, kebiasaan salaman saat jumpa dengan rekan seprofesi jadi hilang. Lalu, tidak bisa jabatangan, dan selalu mengenakan masker sehingga membuat tidak saling mengenal dengan yang lain.

Meski demikian, adanya kekhawatiran redaksi suatu media yang memaksakan para jurnalis di tengah pandemi untuk turun ke lapangan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk kompetesi dengan media lain, atau rating yang diharapkan. Hal tersebut memang salah, karena seharusnya media berkomitmen memprioritaskan keselamatan jurnalis selama meliput wabah Covid-19. Prinsipnya, tidak ada berita seharga nyawa. 

Disamping hal itu ternyata adanya kewajaran yang membuat media bersikap menggebu-gebu dan berkompetesi untuk memberitakan peristiwa di tengah pandemi ini. Alasannya, krisis jurnalisme mulai terjadi, survei yang dilakukan International Federation of Journalist (IFJ) terhadap 1300 jurnalis di 77 negara, dua pertiga atau setara 866 jurnalis lepas dan tetap mengalami pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan dan penundaan gaji selama pandemi. 

Hal tersebut menjadikan media yang bisa survive setahun ke depan bisa dihitung jari. Keresahan yang terjadi diantara para jurnalis di tengah pandemi, khususnya jajaran redaksi sebuah media yang terkena dampaknya. Lalu, nyatanya pun bukan hanya jurnalis saja yang merasakan banyak kekhawatiran, seperti halnya Mahasiswi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung, Dhita Dewitri mengungkapkan keresahan mengenai kesehatan para jurnalis, sehingga menjadi pertanyaan terjamin atau tidaknya.

“Soalnya banyak juga di berita jurnalis meninggal gara-gara terinfeksi juga. Terus khawatir berita yang akan aku publikasikan (jika menjadi seorang jurnalis) malah menambah keparnoan untuk masyarakat,” jelasnya.

Tetapi, bagaimana pun segala profesi pasti memiliki resiko tersendiri yang mesti dihadapi. Hanya saja, setiap orang berhak berusaha keras untuk menjaga dirinya sendiri dan mencari solusi terbaik, khususnya untuk para jurnalis di tengah pandemi covid-19 ini.


Nama: Nazmi Syahida
Kelas: Jurnalistik 6 C
Mata Kuliah : Jurnalisme Online

Komentar

Postingan Populer