Hiruk Pikuk Pasar Tradisional, Pedagang Mengeluh Omzet Turun


Salah seorang pedagang sayur, Elis (42) saat berjualan di Pasar Tradisional Banjaran, Kabupaten Bandung, Rabu, (22/4//2020)
(Foto Dok. Pribadi)

BANDUNG-Lalu lalang orang masih ramai saja, 200 meter berjalan kearahnya pun sudah terdengar, keramaian orang yang berteriak dan bersahutan saling membalas. Ya, itu dia Pasar Tradisional yang masih ramai dikerumuni orang-orang. Padahal dulu, keramaian adalah hal lumrah yang sering terjadi dan dilakukan tanpa risau. Namun, berbeda halnya sekarang ketika mulai diterapkannya social distancing, dan baru-baru ini adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) karena ulah sang virus, Covid-19 ini.

Pasar itu berada di Jalan Raya Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, terletak persis didepan Terminal Banjaran. Pasar ini cukup luas dikunjungi orang dari berbagai penjuru, biasanya tidak pernah sepi pelanggan. Tetapi, jika matahari sudah berada diatas kepala, semua orang mulai bergegas pergi.

Embun pagi masih bisa dirasakan, sambil melewati ibu-ibu di tengah pasar, yang sudah bersinergi melakukan negoisiasi dengan para pedagang. Berhenti di salah satu pedagang sayur, Elis (42) memulai perberbincangannya dengan nada lirih. Ia mengatakan omzet dagangannya menurun, terlebih karena menjelang bulan ramadan biasanya ramai hingga sesak, bahkan selalu laris tanpa tersisa.

“Saya mulai dagang pukul 4 subuh, biasanya jam 6 pagi sudah habis terjual. Tapi, sekarang saya harus menunggu lebih lama hingga pukul 10 atau 11 siang. Sebetulnya saya juga takut kena virus corona, tapi saya juga harus menghidupi keluarga saya dirumah,” ungkapnya, Rabu, (22/4/2020)

Penjualannya menurun hingga 40% dibanding hari-hari biasa. Penurunan ini pun mulai dirasakan bukan hanya saat PSBB diberlakukan, namun saat diterapkannya social distancing oleh pemerintah. Elis mengaku omzet saat ini kurang dari Rp 2 juta, dibanding hari-hari biasa mencapai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta.

Bukan hanya Elis yang mengeluh omzetnya menurun. Namun, keadaan yang sama pun dirasakan pedagang sayur lain, Irwan (45) mengeluhkan dagangannya bahkan pernah tidak terjual sama sekali. Pulang dengan kerugian yang cukup besar, tidak bisa menutupi modalnya sama sekali.

Pasar tradisional ini memang tidak pernah sepi pelanggan, hanya saja kali ini ramainya orang-orang tidak bertahan lama, dan di waktu tertentu saja datangnya para pembeli. Seperti dikatakan salah satu pelanggan sayur, Herna (30) mengungkapkan tidak terlalu sering berbelanja di pasar untuk saat ini. Ia lebih menyiapkan bahan-bahan masakan yang tidak mudah basi, seperti makanan cepat saji.

“Saya lebih banyak menyiapkan makanan cepat saji, soalnya tahan lama. Pun, karena saya tidak mau terlalu sering datang ke Pasar, karena bahan-bahan di Pasar juga tidak bisa bertahan lama,” katanya.

Panasnya matahari mulai terasa, menandakan bahwa hari sudah siang. Pasar pun perlahan menjadi lengang. Hiruk pikuk dan kepadatan orang-orang memang belum berhenti, suara klakson dan gerungan kendaraan masih terdengar. Satu per satu ruko mulai membereskan dagangannya. Beberapa pedagang berduyun-duyun meninggalkan pasar. Dengan raut muka lelah, dan kecewa pun terlihat. Sambil mengibas-ngibas topi ke muka, berharap dapat menyejukan.

Nama: Nazmi Syahida
Kelas: Jurnalistik 6C 
Mata Kuliah: Jurnalisme Online


Komentar

Postingan Populer