Hari Kamisku
#2 Perjalanan di Masa Lalu
Aku ingat sekali hari itu hari kamis. Aku berada di sekolah, masih mengenakan baju putih abu-abu. Tapi, karena hari itu kamis, sekolahku mewajibkan siswanya untuk mengenakan baju batik dari sekolah.
Terlepas dari itu, aku sedang mengenal seorang laki-laki yang baik hati (menurutku saat itu). Ya, dia memang baik dengan segala kesederhanaannya.
Hari kamisku berjalan seperti biasa, menjalani rutinitas belajar hingga sepulang sekolah menghadiri rapat OSIS, karena aku tergabung bersama organisasi itu.
Aku mengenal laki-laki itu di Osis, dia seorang kakak kelas namun umurnya sebaya. Bukan aku yg tua, namun dia yang lebih cepat setahun bersekolah.
Kamisku, yang seharusnya pulang sekolah menghadiri rapat Osis, namun aku tidak. Aku bolos dengan dalih sedang mengatasi satu masalah yang urgensi bersamanya. Tapi, Aku dengannya malah belok pergi membeli tiket bioskop, saat itu film supernova aku menonton bersamanya.
Ya, kamis itu tepatnya 5 tahun yang lalu. Kali pertama kami pergi bersama. Sepulangnya dari menonton film, kami membahas film itu. Dia berkata filmnya terlalu sukar buat dimengerti, harus yang memiliki IQ tinggi untuk paham. Aku tertawa seketika mengiyakan apa yang dia katakan.
Lalu, Kami keluar untuk pulang, tapi malam itu hujan mengguyur cukup deras. Tetapi, masih bisa dilewati meski dengan berjalan kaki. Kita menaiki kendaraan umum saat pergi menonton, tetapi seketika pulang tidak ada angkutan umum yang tersedia. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan kaki hingga menemukan angkot tujuan kami.
Hujan menemani, dia menggenggam tanganku. Kami menyusuri jalanan trotoar kota Bandung.
Lalu, tiba-tiba hujan cukup deras saat kami tengah berjalan, dan memutuskan untuk meneduh sementara. Seketika datang juga pria tua yang bergabung untuk meneduh, lalu ia berkata dan mendoakan hubungan kami berjalan baik. Kami terdiam.
Akhirnya hujan kembali reda, kami melanjutkan perjalanan dan dia masih menggenggam tanganku meski basah kuyup karena hujan. Sambil menyusuri jalanan lagi kami menemukan kendaraan untuk pulang.
Dia mengantarku sampai rumah, padahal rumahku lebih jauh darinya. Hujan masih saja setia membasahi bumi. Menemani dinginnya malam yang membuatku nyaman meski begitu, ya karena ada dia.
Kamisku, berjalan biasa saja namun lebih menyenangkan dibanding biasanya. Namun kamisku kini, tidak lagi ada dia.
Aku ingat sekali hari itu hari kamis. Aku berada di sekolah, masih mengenakan baju putih abu-abu. Tapi, karena hari itu kamis, sekolahku mewajibkan siswanya untuk mengenakan baju batik dari sekolah.
Terlepas dari itu, aku sedang mengenal seorang laki-laki yang baik hati (menurutku saat itu). Ya, dia memang baik dengan segala kesederhanaannya.
Hari kamisku berjalan seperti biasa, menjalani rutinitas belajar hingga sepulang sekolah menghadiri rapat OSIS, karena aku tergabung bersama organisasi itu.
Aku mengenal laki-laki itu di Osis, dia seorang kakak kelas namun umurnya sebaya. Bukan aku yg tua, namun dia yang lebih cepat setahun bersekolah.
Kamisku, yang seharusnya pulang sekolah menghadiri rapat Osis, namun aku tidak. Aku bolos dengan dalih sedang mengatasi satu masalah yang urgensi bersamanya. Tapi, Aku dengannya malah belok pergi membeli tiket bioskop, saat itu film supernova aku menonton bersamanya.
Ya, kamis itu tepatnya 5 tahun yang lalu. Kali pertama kami pergi bersama. Sepulangnya dari menonton film, kami membahas film itu. Dia berkata filmnya terlalu sukar buat dimengerti, harus yang memiliki IQ tinggi untuk paham. Aku tertawa seketika mengiyakan apa yang dia katakan.
Lalu, Kami keluar untuk pulang, tapi malam itu hujan mengguyur cukup deras. Tetapi, masih bisa dilewati meski dengan berjalan kaki. Kita menaiki kendaraan umum saat pergi menonton, tetapi seketika pulang tidak ada angkutan umum yang tersedia. Akhirnya, kami memutuskan untuk berjalan kaki hingga menemukan angkot tujuan kami.
Hujan menemani, dia menggenggam tanganku. Kami menyusuri jalanan trotoar kota Bandung.
Lalu, tiba-tiba hujan cukup deras saat kami tengah berjalan, dan memutuskan untuk meneduh sementara. Seketika datang juga pria tua yang bergabung untuk meneduh, lalu ia berkata dan mendoakan hubungan kami berjalan baik. Kami terdiam.
Akhirnya hujan kembali reda, kami melanjutkan perjalanan dan dia masih menggenggam tanganku meski basah kuyup karena hujan. Sambil menyusuri jalanan lagi kami menemukan kendaraan untuk pulang.
Dia mengantarku sampai rumah, padahal rumahku lebih jauh darinya. Hujan masih saja setia membasahi bumi. Menemani dinginnya malam yang membuatku nyaman meski begitu, ya karena ada dia.
Kamisku, berjalan biasa saja namun lebih menyenangkan dibanding biasanya. Namun kamisku kini, tidak lagi ada dia.
Komentar
Posting Komentar