#JasmineElektrik "Bom Waktu Ibuku"


https://jasmine-elektrik.com/

“Jasmine Elektrik” memberi kesempatan untuk menuangkan perasaanku tentang pesan ibu yang akan selalu aku ingat melalui sebuah tulisan sederhana ini. “Hari Ibu” hari dimana semua orang mengingat sosok ibu. Pada semestinya, setiap hari diberlakukannya hari ibu karena perjuangan dan kerja kerasnya menjadi ibu. #JasmineElektrikCeritaIBU


Bom Atom Ibuku

Sosok ibu yang tidak akan pernah selesai jika diceritakan. Ibuku, seorang wanita berkebangsaan sunda. Perempuan berkemampuan pendekar. Berkarakter umum yang semua ibu di bumi ini miliki. Sabar, tangguh, cerewet, penyayang, pemaaf, tegas, lemah lembut, dan sebagainya. Semua kepribadian bercampur menjadi satu hingga terjadi sebuah karakter yang dahsyat hebatnya.

Aku dilahirkan menjadi seorang perempuan. Perempuan biasa saja yang bedanya mungkin memiliki banyak teman laki-laki dibanding perempuan, dari sejak duduk dibangku sekolah dasar hingga kini aku di perguruan tinggi. Aku seorang anak perempuan yang tidak pernah dilarang bermain kemana pun aku ingin, menjalani kehidupan tanpa aturan, pulang dengan jam malam sesuka hati, berkelana jauh dari rumah. Kepribadianku penuh rasa berpetualang di dunia fantasi maupun nonfiksi.

Ibu menyampaikan sebuah pengajaran dengan selalu menyelipkan pesan didalamnya. Agama, pendidikan dan etika adalah hal yang lumrah ia bicarakan. Tetapi, ada satu hal yang ia percayakan kepadaku, yang selalu aku genggam hingga kini umurku dewasa. Yakni, tidak melanggar kepercayaan dengan berbohong dan berkata untuk selalu jujur. Siapa sih di dunia ini yang tidak pernah berbohong, aku yakin semua orang pernah berbohong bahkan yang katanya berbohong demi kebaikan. Aku pun pernah tapi ini berbeda, ini tidak sama dengan definisi bohong yang lainnya.

Awalnya, aku tidak menyadari bahwa kepercayaan ini adalah sebuah amanatnya, aku pernah bertanya pada ibuku,
“Bu, tau tidak, teman-teman perempuanku kalau pergi main apalagi jauh dari rumah tidak pernah dizinkan oleh ibu atau ayahnya, kenapa aku selalu boleh-boleh saja bu?”
Ibuku menjawab, “Karena ibu percaya kamu tidak akan pernah macam-macam, asal ibu tau kamu pergi kemana dan bersama siapa, kamu juga jangan pernah sampai berbohong, awas saja kalau berbohong ibu engga akan percaya lagi hahaha,” aku belum puas dengan jawabannya, aku bertanya lagi, “laluuuu?” ibuku menghela nafas dan mengelus rambutku “Ya, mungkin teman-temanmu engga diizinkan karena mereka pernah berbohong dan ketauan, sampai akhirnya kepercayaan orang tuanya hilang deh. Tapiiiii, beraneka macam karakter orang tua itu beda-beda loh, ada yang protektif, cemas berlebihan tapi ibu juga selalu cemas, yaaa namanya juga orang tua,” jawabnya dengan mata tersenyum.

Kunci dari kebebasanku adalah kejujuran, bagai galakasi eliptis yang kadang-kadang bintang berkelompok lebih padat, indah. Kata lainnya tidak pernah berbohong pada ibuku. Ya meskipun sesekali aku berbohong tapi pada akhirnya aku mengatakan yang sejujurnya. Aku bersyukur tidak pernah menutup-nutupi hal-hal sekecil apa pun. Aku selalu menceritakan semuanya pada ibuku dan meminta izin jika ingin pergi. Menceritakan nilai-nilaiku, kegiatan apa saja yang aku ikuti disekolah, aku main kemana dan bersama siapa, aku menceritakan teman-temanku dan aku selalu membawa mereka ke rumah, hanya untuk aku perkenalkan pada ibuku.

Kebebasan hidupku tidak hirarki dan hakiki. Akan ada saatnya kebebasan itu dibatasi. Aku memiliki kebebasan dalam hidupku yang masih dalam zona aman, aku sadar diri dan tidak seenaknya ketika ibuku memberi kepercayaan. Karena jika aku sudah berbohong maka akan menurun terus kepercayaannya.

Aku dihadapkan pada sebuah kepastian yang membuatku yakin. Mengatakan hal yang benar membuat seseorang bisa membenahi diri hingga seperti belangir yang kokoh dengan pilar yang kuat dan berguna bagi banyak orang. “Mulutmu, harimaumu” dan “Berkata siang melihat-lihat, berkata malam mendengar-dengar”, melahirkan isi hati dengan berucap selalu berhati-hati. Ibuku mempercayai bahwa dengan kejujuran akan membuka semua pintu yang kita inginkan. Sederhananya, jujur pada diri sendiri dengan hati yang ikhlas.

Dalam ceritaku ini, aku tidak bermaksud sombong apalagi pamrih. Aku hanya ingin berbagi pengalaman dan keluh kesah dibalik pesan yang ibu sampaikan kepadaku. Sejujurnya, tidak ada amanat yang ringan dijalankan kecuali dinikmati prosesnya tanpa berpikir untuk menyakiti diri sendiri dengan berbohong.

Kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu. Amanat dan pesannya, dengan segala kekhawatiran didalamnya. Tidak sederhana tetapi istimewa, bahkan lebih dari itu. Memiliki ledakan yang hebat dengan terguncangnya hati seorang ibu jika pesannya di abaikan, apalagi dilanggar. Aku menyebutnya bom atom ibuku.


Komentar

Postingan Populer